Naruto Uzumaki Pointing Finger

Rabu, 04 Maret 2015

Cita-citaku adalah ...

Apakah itu cita-cita?
Cita-cita adalah keinginan, harapan, atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup.
Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita merupakan bagian atau salah satu unsur dari pandangan hidup manusia, yaitu sesuatu yang ingin digapai oleh manusia melalui usaha. Sesuatu bisa disebut dengan cita-cita apabila telah terjadi usaha untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap cita-cita itu
Bicara tentang cita-cita, sudahkah kalian memiliki cita-cita?
Kalau sudah, apa cita-citamu?
...
Dipostingan kali ini, saya akan bercerita sedikit tentang cita-cita saya.
Sejak zaman SD, kalian biasanya sudah dituntut untuk memiliki cita-cita. Ada yang ingin jadi guru, polisi, dokter, dan lain-lain.
Tapi pernahkah kalian merasa bimbang dengan apa yang kalian cita-citakan tersebut? Saya mengalami hal itu.
Ada saat dimana saya merasa bingung dengan cita-cita saya. Dulu ketika saya kelas 3 Sekolah Dasar, saya pernah bercita-cita menjadi seorang arsitek. Tapi ketika adik saya berkata, “Mbak tuh pinter gambar baju, ya,”, saya langsung berfikir designer adalah cita-cita yang bagus.
Kelas 5 adalah saat dimana saya mulai merasakan apa itu ‘Nge-Fans’. Idola saya adalah seorang pebulutangkis bernama Mohammad Ahsan. Ketika melihatnya bermain sedemikian apik, saya berkata ia adalah pahlawan olahraga nasional. Dan saya ingin jadi seorang pahlawan seperti dia. Sampai akhirnya di kelas 7 atau 1 SMP, saya mulai menyadari bahwa menjadi seorang atlet di Indonesia adalah hal yang sia-sia jika tanpa penghargaan yang layak dari pemerintah. Andaikan saja Indonesia itu seperti Malaysia.
Bukan main. Negeri Jiran itu memberikan pensiun seumur hidup bagi para atlet nya yang berprestasi. Salah satu contohnya adalah pebulutangkis Lee Chong Wei.
Saya memang seorang remaja labil. Saya ingin jadi seorang politisi ketika saya melihat keadaan pemerintahan di Indonesia yang ‘semrawut’. Seorang politisi yang adil, tak pandang bulu. Juga seorang politisi yang mengerti bagaimana harus bertindak. Dan seorang politisi yang mengerti keadaan rakyatnya. Dan tentunya benar-benar berbakti pada bumi pertiwi. Tidak sekadar umbar janji.
Tapi ketika saya dihadapkan pada kenyataan bahwa persaingan politik itu amat berat, saya jadi ragu. Tapi jika saya diberi kesempatan, saya akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Menyelamatkan nyawa orang itu besar pahalanya. Menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia. Ibu saya sangat menginginkan saya agar menjadi dokter.
Tapi ketika mengetahui bahwa saya akan dimasukkan ke SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), apakah kemudian saya bisa jadi dokter? Atau seorang politisi?
Entahlah..
Saya pikir, mungkin lebih baik saya jalani apa yang ada didepan saya. Lambat laun saya pasti mengerti apa yang harus saya capai dalam hidup ini. ^_^

Terimakasih sudah membaca postingan saya yang mungkin kurang penting ini.
Cita-citaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar