Title: Diary Biru Langit atau Cerulean Diary
Tokoh: Lee Gun Wook(aku), Louisa Sakurazuka, Lee Joon Suh
(anak Gun Wook), dan tokoh tambahan lainnya.
Genre: Campur aduk. Hihihihi..
Note: aku sebenarnya bukan lagi K-POPers. Tapi cerpen ini
sengaja aku buat tokohnya pake nama korea. Soalnya aku bingung nentuin nama
Indo nya. Lagipula mengarang nama korea itu mudah dan menyenangkan. Okelah.
Tanpa banyak cincong, cuss baca aja! Semoga suka, ya! And don’t copas tanpa
seijin saya!
...
...
Minggu, 7
April 2014
Sebuah pagi yang tenang. Langit hari ini warnanya agak
remang-remang. Dikamar, kubuka diary pemberian kakakku. Warna biru langit yang
cerah, kini sudah berganti kusam. Semenjak istriku tiada, tak pernah lagi
kusentuh diary itu.
Aku masih ingat tentang kesan pertamaku ketika mendapat diary
ini. Aku sempat protes pada kakakku ketika dia membelikanku ini.
Aku bilang padanya bahwa aku ini anak laki-laki. Sangat lucu
jika anak laki-laki memiliki buku diary. Tapi ia menjawab, bahwa semua kejadian
menarik yang aku alami itu harus ditulis untuk suatu saat kubaca. Katanya, itu
akan membuatku senyum-senyum sendiri bahkan sampai menitikkan air mata. Entah
apa maksudnya. Aku hanya berfikir wanita itu mudah sekali tersentuh perasaan
nya. Tapi tidak dengan laki-laki. Buku ini tentunya tak memberikan efek apapun
padaku.
Tapi baru kusadari sekarang. Ketika aku mulai lupa semua
kejadian yang aku alami, buku diary yang telah 7 tahun menghilang itupun
kembali kepangkuanku.
Kubuka lembar demi lembar buku itu. Aku tersenyum ketika
membaca bagian-bagian yang menurutku lucu dan menangis ketika membaca
bagian-bagian yang menurutku menyedihkan.
Bagian yang paling aku suka adalah jika itu menyangkut para
sahabat baikku masa SMU. Mereka adalah Joo Yang Hyun –si pendiam-, Kim Ki Jun
–si jago musik-, Yoo/Moon Jae Suk –si pelupa-, Park Oh Soo –si playboy-, Moon
Jae Sung –si otak cemerlang-, Jung Yun Hwan –si tiang listrik-, dan Kwon Sang
Ho –si kakek-. Mereka semua adalah sahabat terbaikku. Sudah kuanggap seperti
bagian dari keluargaku.
Dilembar ke 12, aku membaca tulisanku tentang si murid baru
dikelasku. Namanya Louisa Sakurazuka, blasteran Indo-Jepang. Isa (nama
panggilan Louisa) body nya sexy, tinggi semampai, kulitnya putih, rambutnya
pendek seleher dengan warna coklat terang, dan tentunya ia cantik. Ia sempurna
sekali kelihatannya. Seperti paket lengkap dalam satu produk.
Tapi ketahuilah, dibalik kecantikannya, sikapnya seperti
seorang preman pasar. Tanpa sopan santun dan dia PEROKOK! Bayangkan itu!
#alay.ah. Namun selain rokok eceran, dia juga menghisap ganja.
Dulu, ketika aku pertama kali melihatnya, aku bahkan sampai
tak berkedip. Aku sungguh ingin dekat dengannya. Jadi temannya saja aku sudah
sangat senang. Namun untuk jadi temannya saja aku harus melakukan sebuah syarat
dulu. Dia bilang, “hisaplah ini. Jika kau tidak mau, jauhi aku. Kau tidak akan
mengerti bagaimana aku.”. Dia lalu menyodorkan sebatang benda nikotin yang
berbahaya padaku. Aku menelan ludahku kasar. Aku tidak pernah merokok
sebelumnya. Aku bukan seorang perokok.
Kuhisap dan.. “Uhukk.. Uhukk..” aku terbatuk-batuk.
Lalu mulai saat itu aku dan Isa adalah teman. Selama jadi teman itulah, aku
tahu mengapa Isa menjadi gadis yang seperti itu. Dia begitu karena orang tuanya
yang jarang dirumah dan selalu bertengkar. Itu membuatnya malas berada dirumah
dan mencari hiburan diluar. Lalu akhirnya ia terjerumus dalam lubang kegelapan.
Dan mulai saat itu, aku bertekad untuk mengangkatnya keluar dari lubang
kegelapan itu dan membawanya ketempat yang terang diluar sana.
Namun itu tak semudah kelihatannya. Aku berusaha mati-matian
untuk membuatnya berubah. Segala macam cara kulakukan. Namun memang benar apa
yang Tuhan janjikan, setiap usaha pasti ada hasil. Usahaku membuahkan hasil.
Isa sedikit demi sedikit berubah. Aku sangat senang.
Ada saat dimana aku dan teman-temanku tertimpa masalah yang
menurut kami berat.
Sang Ho. Ayahnya mengalami kebangkrutan lalu terkena serangan
jantung. Kini ia harus bekerja keras demi menghidupi ia dan ibunya juga biaya
sekolahnya.
Oh Soo dan karirnya yang hampir musnah. Ia bekerja sebagai
model disebuah majalah. Namun karir yang susah payah ia bangun hampir kandas
karena salah satu selingkuhannya merupakan anak orang ternama yang dapat
melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Yang Hyun dan hubungannya dengan Du Xiao Li yang hampir
kandas karena perbedaan agama.
Ki Jun yang gagal audisi karena tiga orang tak dikenal
menghajarnya ditengah jalan dan merusak gitar yang menjadi benda berharga
baginya. Gitar itu juga merupakan peninggalan satu-satunya dari orangtuanya
yang masih tersisa.
Jae Sung dan Jae Suk dengan masalah keluarganya, juga fakta
mencengangkan bahwa Jae Suk sebenarnya adalah adik Jae Sung.
Yun Hwan yang disandera karena menang dikejuaran basket
nasional. Dan aku yang telah berhasil membuat Isa salah paham hingga akhirnya
ia kembali terjerumus kelubang yang sama.
Semua kejadian itu sungguh tak mampu kujelaskan dengan
kata-kata. Sangat sulit mengungkapkannya.
Dilembar ke 30 aku menulis tentang saat-saat ketika Isa
tertangkap polisi karena ketahuan membawa ganja dalam tasnya. Aku sudah
berusaha menghalau polisi itu ketika mereka akan menangkap Isa. Namun usahaku
sia-sia. Isa akhirnya tertangkap juga dan dimasukkan ke sel tahanan.
Karena kejadian itulah orang tua Isa mulai sadar bahwa semua
hal yang mereka pertengkarkan didepan Isa dan kurangnya pengawasan mereka pada
pergaulan anak semata wayang mereka membuat putri mereka terjebak dalam sebuah
masalah yang besar. Mereka akhirnya mulai berbenah.
Dilembar ke 33, aku menulis tentang dipindahkannya Isa dari
penjara ke panti rehabilitasi.
Lalu dilembar ke 38, saat itu aku, kedua orang tua Isa, dan
teman-temanku (minus Jae Sung dan Jae Suk) datang untuk menyambut keluarnya Isa
dari panti rehabilitasi. Namun ketika melihat kami, ia hanya berjalan melewati
kami, seolah tak peduli. Saat itu aku hanya berfikir mungkin Isa masih marah
padaku. Lalu kukejar dia dan kujelaskan semuanya.
Dilembar 42, adalah saat paling bahagia dalam hidupku.
Akhirnya aku dapat bersatu dengan orang yang aku cintai. Aku dan Isa menikah.
Kami hidup dengan bahagia.
Tapi semenjak pernikahan, Isa melarangku untuk bersetubuh
denganya. Karena ia tidak mau menularkan HIV yang ada dalam tubuhnya padaku.
Maka sepeninggalnya Isa, aku hanya hidup sendiri ditemani seorang kakak
perempuan yang selalu ada bersamaku.
Dan mulai hari itulah, buku diary ini hilang dari
genggamanku...
“Ayah, kita jadi berangkat?”. Pertanyaan itu berhasil
membuyarkan lamunanku.
Dia adalah putra kecilku. Aku menemukan dia ketika pulang
dari bekerja. Waktu itu ada sebuah kecelakaan mobil. Tak ada yang tahu sebelum
aku. Mobil yang sebuah keluarga tumpangi menabrak tiang dan terbakar. Hanya
anak ini yang selamat dari kecelakaan itu. Lalu aku mengasuhnya dan
menjadikannya anakku sendiri.
“tentu.” Jawabku. Kututup buku diary yang sedari tadi kubaca.
Dia dan aku sama-sama berpakaian hitam-hitam. Pagi ini, aku
dan anakku akan pergi untuk menjenguk makam Isa.
Dimobil, aku dan anakku berbincang-bincang tentang banyak hal.
Dia terus bercerita tentang kesannya ketika pertama kali masuk Sekolah Dasar.
Dan akhirnya dia bertanya padaku, “ayah, tadi itu buku apa?”
“itu buku diary ayah ketika masih SMU.”
“aku tidak pernah melihat ayah menulis dibuku itu.”
“ayah akan kembali menulis dibuku itu ketika kita pulang dari
pemakaman.”
--THE
END—
...
Akhirnya cerpen ini selesai juga.
Terimakasih buat readers yang sudah baca setengah bagian atau
sampai selesai. Terimakasih juga buat yang cuma numpang lewat. Jangan lupa balik
lagi, ya! hehehehe...
Ini cerpen rencananya mau aku buat versi cerbungnya. Tapi
kalau sempat. #halah..
Kritik dan saran jangan lupa, ya! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar