Naruto Uzumaki Pointing Finger

Sabtu, 28 Maret 2015

Diary Biru Langit (cerpen)

Title: Diary Biru Langit atau Cerulean Diary
Tokoh: Lee Gun Wook(aku), Louisa Sakurazuka, Lee Joon Suh (anak Gun Wook), dan tokoh tambahan lainnya.
Genre: Campur aduk. Hihihihi..
Note: aku sebenarnya bukan lagi K-POPers. Tapi cerpen ini sengaja aku buat tokohnya pake nama korea. Soalnya aku bingung nentuin nama Indo nya. Lagipula mengarang nama korea itu mudah dan menyenangkan. Okelah. Tanpa banyak cincong, cuss baca aja! Semoga suka, ya! And don’t copas tanpa seijin saya!

...
...
          Minggu, 7 April 2014
Sebuah pagi yang tenang. Langit hari ini warnanya agak remang-remang. Dikamar, kubuka diary pemberian kakakku. Warna biru langit yang cerah, kini sudah berganti kusam. Semenjak istriku tiada, tak pernah lagi kusentuh diary itu.
Aku masih ingat tentang kesan pertamaku ketika mendapat diary ini. Aku sempat protes pada kakakku ketika dia membelikanku ini.
Aku bilang padanya bahwa aku ini anak laki-laki. Sangat lucu jika anak laki-laki memiliki buku diary. Tapi ia menjawab, bahwa semua kejadian menarik yang aku alami itu harus ditulis untuk suatu saat kubaca. Katanya, itu akan membuatku senyum-senyum sendiri bahkan sampai menitikkan air mata. Entah apa maksudnya. Aku hanya berfikir wanita itu mudah sekali tersentuh perasaan nya. Tapi tidak dengan laki-laki. Buku ini tentunya tak memberikan efek apapun padaku.
Tapi baru kusadari sekarang. Ketika aku mulai lupa semua kejadian yang aku alami, buku diary yang telah 7 tahun menghilang itupun kembali kepangkuanku.
Kubuka lembar demi lembar buku itu. Aku tersenyum ketika membaca bagian-bagian yang menurutku lucu dan menangis ketika membaca bagian-bagian yang menurutku menyedihkan.
Bagian yang paling aku suka adalah jika itu menyangkut para sahabat baikku masa SMU. Mereka adalah Joo Yang Hyun –si pendiam-, Kim Ki Jun –si jago musik-, Yoo/Moon Jae Suk –si pelupa-, Park Oh Soo –si playboy-, Moon Jae Sung –si otak cemerlang-, Jung Yun Hwan –si tiang listrik-, dan Kwon Sang Ho –si kakek-. Mereka semua adalah sahabat terbaikku. Sudah kuanggap seperti bagian dari keluargaku.
Dilembar ke 12, aku membaca tulisanku tentang si murid baru dikelasku. Namanya Louisa Sakurazuka, blasteran Indo-Jepang. Isa (nama panggilan Louisa) body nya sexy, tinggi semampai, kulitnya putih, rambutnya pendek seleher dengan warna coklat terang, dan tentunya ia cantik. Ia sempurna sekali kelihatannya. Seperti paket lengkap dalam satu produk.
Tapi ketahuilah, dibalik kecantikannya, sikapnya seperti seorang preman pasar. Tanpa sopan santun dan dia PEROKOK! Bayangkan itu! #alay.ah. Namun selain rokok eceran, dia juga menghisap ganja.
Dulu, ketika aku pertama kali melihatnya, aku bahkan sampai tak berkedip. Aku sungguh ingin dekat dengannya. Jadi temannya saja aku sudah sangat senang. Namun untuk jadi temannya saja aku harus melakukan sebuah syarat dulu. Dia bilang, “hisaplah ini. Jika kau tidak mau, jauhi aku. Kau tidak akan mengerti bagaimana aku.”. Dia lalu menyodorkan sebatang benda nikotin yang berbahaya padaku. Aku menelan ludahku kasar. Aku tidak pernah merokok sebelumnya. Aku bukan seorang perokok.
Kuhisap dan.. “Uhukk.. Uhukk..” aku terbatuk-batuk. Lalu mulai saat itu aku dan Isa adalah teman. Selama jadi teman itulah, aku tahu mengapa Isa menjadi gadis yang seperti itu. Dia begitu karena orang tuanya yang jarang dirumah dan selalu bertengkar. Itu membuatnya malas berada dirumah dan mencari hiburan diluar. Lalu akhirnya ia terjerumus dalam lubang kegelapan. Dan mulai saat itu, aku bertekad untuk mengangkatnya keluar dari lubang kegelapan itu dan membawanya ketempat yang terang diluar sana.
Namun itu tak semudah kelihatannya. Aku berusaha mati-matian untuk membuatnya berubah. Segala macam cara kulakukan. Namun memang benar apa yang Tuhan janjikan, setiap usaha pasti ada hasil. Usahaku membuahkan hasil. Isa sedikit demi sedikit berubah. Aku sangat senang.
Ada saat dimana aku dan teman-temanku tertimpa masalah yang menurut kami berat.
Sang Ho. Ayahnya mengalami kebangkrutan lalu terkena serangan jantung. Kini ia harus bekerja keras demi menghidupi ia dan ibunya juga biaya sekolahnya.
Oh Soo dan karirnya yang hampir musnah. Ia bekerja sebagai model disebuah majalah. Namun karir yang susah payah ia bangun hampir kandas karena salah satu selingkuhannya merupakan anak orang ternama yang dapat melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Yang Hyun dan hubungannya dengan Du Xiao Li yang hampir kandas karena perbedaan agama.
Ki Jun yang gagal audisi karena tiga orang tak dikenal menghajarnya ditengah jalan dan merusak gitar yang menjadi benda berharga baginya. Gitar itu juga merupakan peninggalan satu-satunya dari orangtuanya yang masih tersisa.
Jae Sung dan Jae Suk dengan masalah keluarganya, juga fakta mencengangkan bahwa Jae Suk sebenarnya adalah adik Jae Sung.
Yun Hwan yang disandera karena menang dikejuaran basket nasional. Dan aku yang telah berhasil membuat Isa salah paham hingga akhirnya ia kembali terjerumus kelubang yang sama.
Semua kejadian itu sungguh tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Sangat sulit mengungkapkannya.
Dilembar ke 30 aku menulis tentang saat-saat ketika Isa tertangkap polisi karena ketahuan membawa ganja dalam tasnya. Aku sudah berusaha menghalau polisi itu ketika mereka akan menangkap Isa. Namun usahaku sia-sia. Isa akhirnya tertangkap juga dan dimasukkan ke sel tahanan.
Karena kejadian itulah orang tua Isa mulai sadar bahwa semua hal yang mereka pertengkarkan didepan Isa dan kurangnya pengawasan mereka pada pergaulan anak semata wayang mereka membuat putri mereka terjebak dalam sebuah masalah yang besar. Mereka akhirnya mulai berbenah.
Dilembar ke 33, aku menulis tentang dipindahkannya Isa dari penjara ke panti rehabilitasi.
Lalu dilembar ke 38, saat itu aku, kedua orang tua Isa, dan teman-temanku (minus Jae Sung dan Jae Suk) datang untuk menyambut keluarnya Isa dari panti rehabilitasi. Namun ketika melihat kami, ia hanya berjalan melewati kami, seolah tak peduli. Saat itu aku hanya berfikir mungkin Isa masih marah padaku. Lalu kukejar dia dan kujelaskan semuanya.
Dilembar 42, adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Akhirnya aku dapat bersatu dengan orang yang aku cintai. Aku dan Isa menikah. Kami hidup dengan bahagia.
Tapi semenjak pernikahan, Isa melarangku untuk bersetubuh denganya. Karena ia tidak mau menularkan HIV yang ada dalam tubuhnya padaku. Maka sepeninggalnya Isa, aku hanya hidup sendiri ditemani seorang kakak perempuan yang selalu ada bersamaku.
Dan mulai hari itulah, buku diary ini hilang dari genggamanku...
“Ayah, kita jadi berangkat?”. Pertanyaan itu berhasil membuyarkan lamunanku.
Dia adalah putra kecilku. Aku menemukan dia ketika pulang dari bekerja. Waktu itu ada sebuah kecelakaan mobil. Tak ada yang tahu sebelum aku. Mobil yang sebuah keluarga tumpangi menabrak tiang dan terbakar. Hanya anak ini yang selamat dari kecelakaan itu. Lalu aku mengasuhnya dan menjadikannya anakku sendiri.
“tentu.” Jawabku. Kututup buku diary yang sedari tadi kubaca.
Dia dan aku sama-sama berpakaian hitam-hitam. Pagi ini, aku dan anakku akan pergi untuk menjenguk makam Isa.
Dimobil, aku dan anakku berbincang-bincang tentang banyak hal. Dia terus bercerita tentang kesannya ketika pertama kali masuk Sekolah Dasar. Dan akhirnya dia bertanya padaku, “ayah, tadi itu buku apa?”
“itu buku diary ayah ketika masih SMU.”
“aku tidak pernah melihat ayah menulis dibuku itu.”
“ayah akan kembali menulis dibuku itu ketika kita pulang dari pemakaman.”

                      --THE END—
...
Akhirnya cerpen ini selesai juga.
Terimakasih buat readers yang sudah baca setengah bagian atau sampai selesai. Terimakasih juga buat yang cuma numpang lewat. Jangan lupa balik lagi, ya! hehehehe...
Ini cerpen rencananya mau aku buat versi cerbungnya. Tapi kalau sempat. #halah..

Kritik dan saran jangan lupa, ya! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar